Friday, May 12, 2017

Hey Ho

Numpang share tulisan yang sangat penting bagi pertumbuhan Ekonomi bangsa Ultraman.

Tulisannya di mari.

Shareception.

Follow blognya lah, kalo mau. Kalo gak mau ya gakpapa, nyantai aja.

Thursday, May 11, 2017

Semua Semu

Jujur, gue rada males ngomongin politik, cuman...

"Ada orang yang ngebanggain kemenangan dari handicap match. ADA."

Ini ibarat 11 orang MU ngebanggaain kemenangan lawan 8 orang Persija. Pilkada DKI bagi gue terasa seperti handicap match. Tangan kosong lawan penuh senjata, 1 lawan 1.000, minoritas lawan mayoritas. Sebenernya kalo dapet kesempatan ketemu bapak gubernur yang baru, gue pengen bilang di depan mukanya, "Seandainya si Ahok itu bukan non muslim, Bapak masih yakin menang pilkada?" Ditambah dengan segala bentuk tekanan dan intimidasi (bahkan sebelum kasus Al-Maidah terjadi dengan berbagai spanduk, video, dan kampanye media sosial soal larangan memilih si kafir yang beredar), praktis ini menjadi handicap match yang timpang. Dan ada orang yang ngebanggain pertarungan yang seperti itu. Iya, ADA. Dan yang lebih lucu lagi adalah udah diwarnai aksi diskriminasi dan intimidasi sosial, si nomor 3 ini masih aja ngewanti-wanti masalah kecurangan. Ibaratnya Hardy Boyz yang udah ngegebukin Steve Blackman make bangku masih aja nyewa pihak ketiga buat ngawasin wasit biar gak ada kecurangan.

(Btw, mengenai para pelaku intimidasi, gue rada gemes aja gitu ketika kelakuan mereka udah terekspos secara terang-terangan, tapi giliran dipaparin faktanya, mereka malah denying dan nyari pembenaran. Rasanya gemes gimanaaaa gitchyuuu...)

Again, gue bukan pendukung Ahok, gue cuman rada jijik sama penjilat seperti si nomor 3 yang hobi nynyir di media. Mungkin kalo saingan si Ahok itu Ridwan Kamil, gue pastinya bakal dukung RK.

Dulu kita inget si Jokowi sempet dituduh pencitraan gegara aksi blusukannya. Laah menurut gue label pencitraan justru lebih pantas disematkan oleh duo ini yang ngomongnya suka plinplan, ngejilat, standar ganda, bermuka dua, playing "hero", playing "kutu lompat", sok inklusif, sok prolatriat, dan suka nyinyirin lawan politiknya. Semua hanya untuk meraih simpati demi kepentingan pribadi dan partainya. Belon jadi gubernur aja doi udah plinplan... Dulu pas kampanye janji bakal menghentikan reklamasi, nah sekarang katanya pengen ngegarap... Joss banget kan...

Kalo di media, si Ahok ama Djarot itu ngomongin masalah Jakarta, lah ini si nomor 3 malah ngomongin si nomor 2, belum lagi ditambah berbagai program lucu yang dipamerin. Mau sok inovatif tapi ujungnya jadi bikin geli, like, really... ((((KARTU JOMBLO))))?!

Misal yah, misaaaaal... Kalo si nomor 3 ini emang pinter, kompeten, berpemikiran lebih bagus, inovatif, punya leadership lebih oke, bisa diandelin, tidak bertopeng, dan bijak dalam ngomong serta bersikap (santun dan bijak itu beda artinya yaaaa...), mungkin gue juga akan akan ngedukung mereka. Mungkin ini kali ya esensi dari berpolitik, siapkan topeng lebih dari 1.

Tapi Pilkada udah berlalu, gue juga bodo amat juga sih si Ahok kalah, cuman rada geli aja si nomor 3 beserta pendukungnya ngebanggain kemenangan dari handicap match ini. Yah, emang politik itu bukan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah, bukan mengenai siapa yang lebih baik dan siapa yang tidak; tapi mengenai siapa yang lebih populer dan siapa yang kurang. Semua demi kepentingan. Yah, kalo esensinya kagak begini mah, harusnya Bernie Sanders yang jadi presiden Amrik.

Apa hikmah dari selesainya pilkada ini? Moga-mogaaaaaaaa khotbah Jumat provokatif yang suka bawa-bawa isu SARA itu akan hilang juga.... Harusnya kita bisa kayak Mesir yang melarang kegiatan pendakwah yang udah ketauan bawa-bawa Kristen dan Yahudi ke dalam konten dakwahnya sebagai tindakan intoleran. Padahal Mesir pada umumnya kita ketahui adalah salah satu negara dengan dasar Islam yang kuat. Kalo di sini mah orang kayak gitu bakalan dijadiin imam besar kali huehue.

Sedangkan sisi negatifnya? Gue bakalan lebih sering disuguhi berita dan foto si nomor 3 di berbagai portal berita...

Sebelom lanjut, mau gue konfirmasi lagi bahwa gue bukan secara spesifik pendukung Ahok, gue cuman ngedukung minoritas yang dimarjinalkan oleh mayoritas. Kenapa gue rada sensi sama bentuk diskriminasi sosial ini? Karena gue banyak ngeliat orang-orang Islam di barat sebagai minoritas dimarjinalkan oleh mayoritas yang non muslim. Kalo di barat, gue benci banget orang non muslim yang antimuslim, kalo di mari gue benci banget ama muslim yang antinonmuslim. Jadi kegerahan gue akan diskriminasi sosial ini bukan karena sentimen agama atau loyalitas buta, tapi semata-mata karena moralitas. Gue gak berada pada kutub mana pun, gue berada di poros tengah.

Keadilan Semu

Sekarang yang pengen gue bahas adalah soal dipenjaranya Ahok. Ya, gue juga setuju kalo si Ahok itu salah, tapi gue gak beranggapan bahwa dia udah menghina agama Islam. Ya, ini keluar dari tangan (kan gue ngetik, bukan ngomong ya) seorang yang sensitif masalah provokasi terhadap agama.  Atas alasan sensitivitas ini pula yang ngebuat gue berenti dengerin lagu-lagu Slayer, di mana gue baru tau di salah satu lagunya ada yang memojokan Islam, judulnya "Jihad". Terus ada juga si Tori Amos yang mencatut nama Nabi Muhammad di lagunya dan menyindir beliau atas budaya patriarkis yang berkembang dalam Islam (tapi kalo si Tori Amos mah gue emang ga pernah suka sih...). Ada banyak elemen barat yang gue tinggalin gegara masalah sensitivitas ini, baik itu website, film, acara hiburan, public figure, dll. Kalo aja gue punya kekuatan reality warping, pengen gue otak-atik tuh idup orang-orang yang antiIslam.

Gue sangat gak suka terhadap segala jenis penghinaan SARA, termasuk di dalamnya adalah agama, dan itu berlaku untuk semua agama, bukan cuman Islam aja. Makanya gue gak sukanya becandaan ala orang barat tuh gitu, mereka kayak gak punya batas. Gue inget dulu ada pilemnya Adam Sandler yang judulnya Anger Management. Pilemnya lumayan lucu, tapi yang bikin gue gak suka adalah bagian pilem tersebut yang mengejek agama Budha. Gue sangat gak suka sama penghinaan agama, termasuk ketika Ulama membuat lelucon tentang agama orang lain. Gue jadi teringet ama becandaan SARA temen kantor dulu. Dulu temen yang bilang, "Biarin masuk angin, daripada masuk (insert agama non muslim)" Gue pikir orang alim yang pinter agama bisa ngomong lebih baik dari itu.

Nah balik ke si Ahok, seriusan, gue nyari-nyari titik sensitivitas gue atas pernyataan si Ahok, tapi tetep gak nemu, karena "Saya makan pakai sendok" itu beda dengan "Saya makan sendok". Lagian kalo dijabarin dari struktur kalimat, apa bedanya struktur kalimat Ahok dengan si imam besar yang pernah bilang kalo ulama su' itu nipu pakai Al-Quran dan Hadist? Coba perhatikan baik-baik susunan subjek, predikat, objek, dan keterangan bendanya. Bedanya di mana? Terus kenapa yang didemo Ahok doang? Kenapa yang dituntut itu cuman Ahok doang? Wajah standar ganda.

You hear what you want to hear. Orang-orang bilang Ahok itu menista agama karena sebenernya mereka ingin mendengar kenyataan seperti itu. Kenapa? Karena bahkan sebelom kasus Al-Maidah ini pun Ahok udah diserbu oleh hatersnya. Ibaratnya si Ahok napas aja udah salah, pokoknya dia sebegai non muslim keturunan Tionghoa gak boleh jadi gubernur, apalagi mencalonkan diri lagi. Nah kasus ini istilahnya merupakan blessing in disguise bagi mereka, karena mereka jadi punya alasan yang lebih kuat untuk menjatuhkan Ahok. Sumber waras, reklamasi, dan kasus-kasus yang lainnya belon cukup untuk menjatohkan Ahok. Mereka terus menerus mencari celah untuk menyerang Ahok. Nahhhh baru deh nih setelah kasus Al-Maidah terjadi, mereka jadi punya suara yang lebih kuat untuk menjadikan musuh mereka menjadi musuh bersama. Mereka jadi punya suara yang kuat untuk memosisikan diri mereka sebagai "pihak yang benar" dan menggiring masayarakat untuk menunjuk si Ahok sebagai "pihak yang patut dibenci bersama". Lawan politik Ahok di pilkada dan masyarakat yang udah terbelenggu oleh problematika SARA menjadi amunisi baru bagi pembenci Ahok. Momen pilkada dan kasus Al Maidah adalah momentum yang tepat untuk menggulingkan si Ahok.

Gue bener-bener gak berpikir kalo Ahok itu antiIslam, apalagi khususnya setelah mengetahui segala amalan dia terhadap Islam (bangun masjid, ngehajiin orang, dll), gue jadi yakin dia bukan antiIslam, tapi cuman orang khilaf yang kepleset lidah, beda sama orang barat yang emang kebanyakan (bener-bener banyak) benci Islam. Serius, gue kesel banget sama mereka yang suka bawa-bawa pelecahan atas agama pada sesuatu yang bahkan gak ada relevansinya.

Gue pikir ada bedanya ya antara ungkapan penghinaan yang memang didasari pada rasa tidak hormat dan kebencian terhadap agama tertentu dengan perilaku salah ucap yang tidak dilandasi pada niat menghina. Kecuali kalo misalnya si Ahok itu gak pernah minta maaf, gak menyesali perbuatannya, dan malah jadi memojokan Islam secara terang-terangan, ya bolehlah dituntut.

Kalo misalnya si Ahok itu antiIslam, dia gak akan mendukung pembangunan dan praktik keagamaan Islam. Yang orang selalu bawa adalah bahwa Ahok itu melarang kegiatan keagamaan di Monas (tanpa berusaha memikirkan alasan di belakangnya), bukan ketika Ahok itu ngebangun Masjid, berangkatin orang ke tanah suci, dll. Malah lebih sering bangun masjid daripada bangun rumah ibadah agama lain.

Kembali ke masalah salah ucap, apakah si Ahok musti minta maaf? Pasti! Dan dia udah minta maaf (inget kata-kata Aa Gym yang menuntut perkataan maaf dari dia jika tidak mau dituntut hukum, tapi ujung-ujungnya malah ikutan demo dan menuntut hukum juga... yeah, we love you, Aa). Apakah dia musti dikasih hukuman? Maybe (gue bilang maybe, soalnya banyak juga orang yang menyinggung agama tapi lolos-lolos aja setelah minta maaf di depan publik. Inget dong ama kasus orang nginjek-nginjek karpet yang ada tulisan Allah-nya, tapi dia sekarang bebas jungkir balik), tapi bukan dalam bentuk hukuman penjara. Gue punya ide bahwa ia harus dihukum dalam bentuk kewajiban menyumbangkan uang pribadinya ke "misal" 51 pesantren, atau ia harus membangun 51 masjid, atau ia harus menghajikan 51 santri, atau dia musti nyekolahin 51 santri ke perguruan tinggi di negara-negara-negara Timur Tengah, dll, pokoknya banyak ide hukuman yang lebih positif yang bekaitan dengan Al-Maidah : 51 ketimbang hukuman yang sarat politis yang hanya ditujukan untuk memuaskan satu golongan aja.

Tapi hukuman udah dijatuhi oleh hakim yang sejak awal udah berat sebelah dan ciut oleh massa yang tiap Jumat suka bikin macet jalan. Hukuman yang subjektif, tendensius, dan transaksional, pun lahir. Yah, mau gimana, emang gak ada hakim yang paling selain Allah swt. Hukum manusia itu adalah hukum yang bisa dibeli, baik itu oleh duit, maupun oleh ancaman, jadi ya buat lucu-lucuan aja.

*Fun fact: 3 Hakim kasus Ahok dapet promosi sehari sebelom jatuhnya putusan hukum. Waaah... ada apa ini...

Yaudah sekarang mah terima aja, tapi 1 hal yang pengen gue caps lock, yaitu KEADILAN. Sebelum putusan lahir, mereka yang demo ramai-ramai menuntut keadilan. Okeeey, sekarang orangnya juga udah mo dipenjara, seneng kan lo semua? Nah, dari sini mau gue balikin deh tuh kata "KEADILAN". Kalo mau adil, ya penjarain juga tuh orang-orang yang hobinya menista/menghina agama. Gak susaaaah nyarinya, bahkan untuk bentuk penistaan agama yang emang terang-terangan (kalo si Ahok mah masih debatable, karena kata-kata dia juga multiinterpretasi sebenernya). Bahkan gak susah juga nyari penista agama yang berasal dari kaum PEMUKA AGAMA YANG SELALU KITA JUNJUNG SURI TAULADANNYA. Nyang satu aja malah kabur ke Arab. Gue rada gak suka aja ama orang muna yang suka berlindung dibalik topeng agama. Ulama kalo salah tetep aja bener... kalo salah dan dituntut hukum, tar bilangnya kriminalisasi ulama, politik balas dendam... selalu playing victim... ya kalo emang bener gak salah mah buktikan aja dengan bukti dan alibi, lah ini wong bukti otentik yang menunjukan kesalahan dia aja betebaran... udah gitu biar udah ada bukti penunjuk kesalahan dia, masih aja bilang "korban fitnah"... Gak ada yang nyudutin ulama atau umat Muslim, karena sebagian tidak menggambarkan keseluruhan. Said Aqil Muslim, Quraish Shihab Muslim, Gus Mus Muslim, tapi apakah mereka dituntut hukum? Ya enggak, kan gak buat salah. Gue sendiri bukan antiulama, jangan terlalu instan mengambil kesimpulan, karena gue sangat mengagumi sosok Gus Dur, Cak Nur, Wahid Hasyim, dan tokoh-tokoh moderat lainnnya.

Jadi, yaaa... mari kita penuhi penjara dengan para penista agama. Mungkin kalo penjara udah penuh oleh penista agama; koruptor, teroris, pembunuh, pemerkosa, maling, dan kawan-kawannya bisa diiket di pohon aja kali yaaa... Mereka yang menuntut keadilan harus menerima juga konsekuensi dari keadilan tersebut. Tentu kita gak mau dong yaaa kalo nanti tercipta kesan bahwa keadilan sosial di Indonesia itu cuman berlaku bagi golongan mayoritas, eh, emang udah dari dulu kayak gitu ya? Jangan-jangan emang dari dulu keadilan sosial di Indonesia itu bersifat semu ya? Yaitu keadilan yang syarat dan ketentuannya berlaku. Lah ini keadilan apa sales promotion...

Dannn... waktu hukumannya juga harus sesuai ya... Nyebut ayat Al-Quran divonis 2 tahun, sedangkan ngebakar vihara divonis 2 bulan... Menurut gue sih aksi pembakaran rumah ibadah itulah yang lebih tepat disebut sebagai penghinaan agama. Tapi ya namanya juga praktisi hukum di Indonesia... gak heran kalo yang kayak begini terjadi. Sekali lagi ini bukan tentang si Ahok, ini murni tentang penegakan norma hukum dan keadilan sosial.

Penutup

Ada yang berlindung dibalik topeng, ada yang menerjemahkan keadilan dengan kamus buatan golongannya sendiri. Semua semu. Yang benar belum tentu benar, yang kuat sudah pasti benar.

Gue sadar dengan disharenya tulisan ini, gue akan mengundang banyak musuh. Tapi yaudahlah, di saat yang sama gue juga udah gak bisa menahan perasaan yang terus memanas di dalam dada, rasanya pengen gue keluarin aja gitu semua dalam tulisan. Emang semenjak Pilkada DKI juga udah tercipta kubu-kubuan. Persatuan Indonesia udah di ujung tanduk. Padahal jaman kepemimpinan Nabi Muhammad dulu, beliau juga menerima perbedaan agama dalam piagam Madinah, tapi kenapa para fundamentalis di sini selalu ingin memaksakan ideologinya sendiri ya. Berbicara tentang menjadi warga negara yang "gak dianggap" di mana hak asasi mereka dimarjinalkan. Bayangin ketika guru nanya satu-satu anak SD tentang cita-cita mereka, terus ada bocah yang pengen jadi presiden, lalu si guru ngejawab, "Oh, kamu gak bisa jadi presiden, soalnya kamu non muslim". Tar giliran beredar berita di mana orang Islam di barat dilarang menjadi pejabat atau pemimpin aja ngamuk lagi, nyebut-nyebut diskriminasi sosial.

Gue inget banget dulu gue pernah ngadu mulut ama office boy kantor. Dia ngotot bahwa khilafah itu harus ditegakan di Indonesia. Gue tanggepin aja dengan ngomong bahwa Indonesia itu diperjuangkan bukan hanya oleh orang Islam, tapi juga sodara-sodara sebangsa yang beda agama, jadi mereka juga berhak menentukan masa depan Indonesia. Eh, dia malah jawab kalo orang Islam itu lebih berhak dari mereka. Gue nyaris diceramahin seharian biar katanya bisa dapet hidayah, tapi kemudian gue menolak. Akhirnya besoknya dia musuhin gue. Gue tegor gak pernah tanggepin, kalo ngomong, liat muka gue aja kagak mau, gue bener-bener didiemin sampe dia resign dari kantor.

Indonesia belon khilafah aja sebenernya hukum dan norma sosialnya udah condong banget ke agama Islam. Banyak dasar hukum yang melihat hukum Islam sebagai acuan. Terus gimana pas jadi khilafah? Boro-boro bangun rumah ibadah, orang non muslim mau beribadah aja diusir-usir, rumah ibadah yang udah ada malah dibakar. Indonesia di forum internasional selalu berkoar-koar memperjuangkan kebebasan beragama, tapi di dalem negeri orang yang beragama berbeda malah dipinggirkan. Ya kalo gak suka dengan demokrasi, pancasila, dan pluralisme, keluar aja dari Indonesia. Jaman Nabi, agama turun digunakan untuk kedamaian dan persatuan, jaman sekarang agama dipake sebagai alasan untuk perang dan memecah persatuan.

Kayaknya kita bisa deh jadi orang alim dengan tetap hidup berdampingan sama orang beragama lain tanpa harus menjadi egosentris nan intoleran. Di jaman yang lagi kacau dengan terorisme ini, mereka selalu berkoar-koar bahwa Islam itu adalah agama yang penuh cinta dan kedamaian, tapi yang mereka tunjukan malah sebaliknya, seolah-olah di dalam Islam hanya ada kata 'marah' dan 'dendam', tidak ada kata 'sabar' dan 'maaf', padahal Allah aja maha pemaaf. Gue lebih suka memandang Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang, bukan agama eksklusif yang hanya mementingkan supremasi. Tentunya kasih sayang yang gue maksud adalah kasih sayang terhadap semua, bukan pada satu golongan aja.

Tuesday, April 4, 2017

Movie Rant: Dial M for Murder (1954)

Lagi pengen ranting, cuman lagi males nulis juga, jadi mungkin yang akan Anda liat adalah review asal-asalan (dan setengah-setengah dari gue).

"Dial M for Murder" karya Hitchcock pada tahun 50-an sebenernya punya plot misteri yang menarik, , cuman ada yang bikin gue gak suka sampe-sampe gue gak tahan untuk nonton abis pelemnya.

Gue gak akan ngomentarin film tersebut secara teknis, melainkan isi cerita. Jadi singkat cerita, ada sepasang suami-istri yang tengah mengalami masalah. Si suami sang pemain tennis profesional keliatan sibuk banget ama kegiatannya ampe-ampe dia gak meratiin istrinya. Komunikasi istrinya yang menyarankan agar dia berenti untuk menjadi pemain tennis agar lebih memperhatikan doi ternyata berbuah, si suami pun pensiun. Namun yang ngeselin adalah ternyata si istrinya gak lebih baik perilakunya dari si suami. Yap, dia selingkuh. Bahkan sampe si suami udah tobat dan pensiun dari profesinya pun dia masih ngejalananin hubungan gelap dengan pria lain. Padahal istrinya yang nyuruh berenti dari tennis. Hubungan tersebut ketauan, dan karena kesel si suami merencanakan "pembunuhan sempurna" terhadap istrinya. Dia nyewa orang lain yang dia suap untuk ngebunuh si istri. Tapi ternyata rencana pembunuhan tersebut gak cukup sempurna, karena dii tengah proses, ada suatu kegagalan, yaitu ketika si istri mau dibunuh, si istri berhasil ngelawan dan akhirnya malah si calon pembunuh yang mati. Si istri pun dituduh melakukan pembunuhan. Namun untungnya detektif dan pacar gelap si istri berhasil membela dia dan akhirnya yang kena batunya adalah si suami yang udah ketauan telah menjadi otak dari rencana pembunuhan sang istri. Begitulah kira-kira gambaran plot asal-asalan dari gue. (Yang pengen gambaran lengkap plotnya ya google aja, atau donlot torrentnya di yts)

Lantas bagaimana gue memposisikan diri gue dalam plot cerita ini? Gue berada di sisi sang suami. Mau gimanapun jalan ceritanya, gue kesel banget ama sang istri yang udah selingkuh, bahkan setelah suaminya pensiun dari tennis untuk mencurahkan waktunya kepada sang istri. Tu suami udah membuang karirnya demi sang istri, dia udah menuhin permintaan istri buat pensiun, eh, si istri masih aja asik buat selingkuh.

Gue sangat-sangat benci ama yang namanya selingkuh. Maksudnya kalo ada masalah ya obrolin, dan obrolinnya juga berkali-kali, jangan ini obrolinnya cuman sekali, terus gak ada perubahan, kemudian menjadikan hal tersebut sebagai excuse buat selingkuh. Ya kalo konfliknya sulit mendapatkan titik cerah, ya mendingan cerai aja sekalian, jangan lari dengan punya hubungan gelap di bawah status pernikahan. Poligami diem-diem tanpa ijin istri juga itungannya selingkuh. Apapun alesan dan bentuknya, selingkuh ya tetep selingkuh. Suami-istri harus saling menjaga komitmen dan sumpahnya yang dulu pernah dibuat sebelum disahkannya sebuah pernikahan.

Yang bikin tambah kesel adalah yang meranin istrinya itu Grace Kelly yang cantiknya tuh sialan banget. Gue seneng ngeliat parasnya tapi benci ngeliat karakternya, kan jadinya kontradiktif. Maksudnya gue jadi tambah baper kalo punya istri secakep Grace Kelly yang udah ngekhianatin gue (ngemeng ape sih lo, Dham).

Yang ngeselin lagi adalah scriptnya sama sekali gak memposisikan si istri dan pacar gelapnya yang udah saling selingkuh sebagai orang yang bersalah. Maksudnya gue expect bahwa biarpun mereka diposisikan sebagai protagonis, tapi seenggaknya digambarkan juga kek mereka yang udah merasa bersalah karena selingkuh.

Yang bikin kesel tuh bahkan sampe akhir cerita, si istri dan selingkuhannya tetep aja diposisikan sebagai orang yang seolah paling benar, suci, dan gak berdosa. Kayak gak ada perasaan guilty. Maksudnya tuh apa kek, di akhir cerita menurut gue seharusnya dikasih semacem pesen moral bahwa si istri telah menyesal kalo perselingkuhannya telah merubah suaminya jadi orang yang kayak gitu (terus ngarepnya sih mereka putus demi kebaikan masing-masing). Si suami emang monster yang mau ngebunuh istrinnya, tapi merekalah yang menciptakan monster tersebut.

Sebenernya kalo gue jadi si suami, gue gak akan ngerencanain pembunuhan terhadap para pelaku perselingkuhan sih yang secara spesifik adalah si istri. Yang gue lakuin adalah buka aib mereka ke publik, tempatin diri mereka di posisi yang salah, dan biarkan opini publik berkembang. Perilaku yang gak sesuai dengan norma sosial akan mengembangkan penilaian negatif, rantai omongan pun membentuk serangan verbal ke si istri dan selingkuhannya. Penciptaan patologi psikologis seperti ini pastinya lebih baik dari kematian, karena mati sekarang atau 50 tahun lagi, ujung-ujungnya kita akan menghadapi neraka juga. Jadi kenapa gak menciptakan neraka dunia aja bagi mereka yang udah gak setia sampe mereka mati beneran secara alami? itung-itung nambah charge dosa mereka juga. Plus kalo kita jadi ngerencanain pembunuhan, apalagi kalo ampe ketauan, pastinya kita akan mendapat label penjahat. Udah gitu label orang salah yang tersemat dari si istri karena udah selingkuh pun perlahan bergradasi menjadi label orang baik gegara menjadi korban dari percobaan pembunuhan. Kan bete, udah jadi korban perselingkuhan, sekarang dilabelin sebagai orang jahat.

Lagian si Hitchcock ini rada ngeselinn juga, dia demen banget nyisipin isu perselingkuhan itu di pelemnya, baik itu secara explisit, maupun implisit. Beberapa pelemnya membangun konflik dari isu tersebut. Ni die menyiratkan pada kehidupan pribadinya ape gimana sih, ya walaupun gak tertarik juga sih buat tau kehidupan personalnya.

Yah jadi itu aje sih rant gue tentang pelem ini. Entah kenapa gue rada sensi aja ama isu perelingkuhan yang diangkat di sebuah pelem (dan rata-rata pelem yang gue tonton akhir-akhir ini punya muatan konflik tersebut, sebuat aja Heat (1995), Mulholland Dr. (2001), Psycho (1960), Shawshank Redemption (1994), Godfather (1972), Goodfellas (1990), Chinatown (1974), dll). Saking sebelnya, hal-hal fiktif kayak gitu ampe kebawa ke perasaan hahahah norak bet gue. Entah kenapa gara-gara pelem, gue jadi rada skeptis gitu ama cinta sejati. Maksudnya kedua insan menikah karena melihat hati masing-masing apa karena paras, materi, tahta, fame, atau lust?

Gue paling sebel sama orang yang mencari pembenaran buat selingkuh, menjadikan problem rumah tangganya sebagai alasan buat selingkuh. Ujung-ujungnya mereka playing victim, menjadikan diri mereka sebagai korban dari masalah rumah tangga. Dari situ selingkuh menjadi pelarian deh untuk mengobati masalahnya. Mending perkaranya berat kayak suami nelantarain ampe gak nafkahin istrinya bertahun-tahun atau suami tiap hari hobi nganiaya istri, tapi giliran diajakin cerai, selalu nolak. Lah ini suami sibuk dikit tanpa ada komunikasi buat mencari titik cerah dan solusi, selingkuh. Terbentang jarak sedikit, selingkuh. Hal yang sama juga berlaku buat si suami ya. Punya duit dikit, nyeleweng, punya kekuasaan dikit, nyeleweng, punya ketenaran dikit nyeleweng. Pokoknya gak ada yang bener dari kata selingkuh.

Sebenernya pengen gue bahas lebih panjang lagi, tapi bersamaan dengan itu gue juga lagi males.

Thursday, November 3, 2016

4 November

Sebelumnya gue pengen ngasih tau bahwa gue gak berada di pihak mana-mana alias netral.

Jadi... langsung aja,

menurut gue demo 4 November 2016 itu penuh dengan kontradiksi dan ironi.

Gimana ya, menurut gue si Ahok itu gak ada maksud untuk menghina ayat Al-Quran. Gue menafsirkan bahwa dia pengen ngomong kalo orang-orang kita itu udah dipengaruhi dengan menggunakan ayat Al-Quran.

Gue gak ngomong kalo dia bener, karena menurut gue dia emang salah. Kerja mah kerja aja, kampanye ya kampanye aja, gak usah bawa-bawa Al-Quran, udah tau tipikal orang-orang Indonesia kayak begitu.

Kata kuncinya adalah penggunaan kata 'pake' dan 'oleh'. Penggunaan kata 'oleh' mengindikasikan bahwa ayat Al-Quran udah digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mempengaruhi orang lain. Sedangkan penggunaan kata 'oleh' menunjukan bahwa ayat Al-Quran udah ngebohongin umat Muslim.

Yang lucu adalah gini, doi dianggep menistakan ama Islam, terus apa kabarnya dengan orang-orang udah ngebakar tempat ibadah Gue pikir kalo mau menuntut hukum seseorang atas perilaku penistaan agama, kita semua harus konsisten, karena di luar sana banyak banget kasus-kasus serupa dengan praktik penistaan yang lebih parah. Gak susah nyari orang-orang yang menghina Islam atau agama-agama yang lain. Di medsos aja udah menjamur tuh ungkapan-ungkapan kebencian terhadap agama (bukan cuman Islam, tapi juga agama-agama lain). Si Dhani mo ikut demo 4 November, apa dia lupa kalo dulu dia pernah nari-nari di atas kaligrafi Allah? Tuntut juga tuh orang-orang yang kayak gitu biar adil.

Makanya gak heran kalo gue menganggap hal ini memiliki multitujuan dan kepentingan (if you know what i mean)... apa lagi kalo bukan politik.

Gue bukan pro Ahok, jangan salah sangka. Sekali lagi tekenin, gak berada pada pihak mana-mana. Ya gimana, soalnya kebanyakan orang Indonesia itu para penganut pendekatan silogisme, di mana kalo lo gak gini, berarti lo gitu, kalo bukan golongan kami, maka lo golongan mereka. Terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa memerhatikan variabel-variabel yang lain.

Gue orang Bekasi, dan kalo pun KTP gue Jakarta, gue juga belon tentu milih dia (dan mungkin emang gak akan milih dia juga). Dari situ gue cuman pengen ngomong bahwa yang jadi pusat perhatian atas masalah ini bukan si Ahok, dia bukan si tokoh utama, melainkan sikap SARA umat Muslim yang bikin gue sedih.

Gue rada gak seneng aja ngeliat aksi-aksi diskriminatif orang-orang yang memarjinalkan kaum minoritas. Gue sangat gak berkenan ketika ada Muslim yang teriak kafir seolah-olah keberadaan para non Muslim ini adalah aib. Bagi gue sebutan kafir itu setara dengan gaijin atau nigger yang interpretasinya bisa dikatakan sebagai orang non golongan.

Bayangin kalo lo berada di negara minoritas muslim, kemudian lo ditolak oleh masyarakat, seakan-akan sikap lo memilih kayakinan adalah hal yang salah. Lo marah ketika di Barat ada orang ngedemo komunitas Muslim? Ngedemo Masjid? Ya kurang lebih perasaan non-Muslim di negara kita sama ketika di lampu merah mereka ngeliat sekumpulan orang ngebentangin spanduk bertuliskan "Jangan pilih pemimpin kafir, blablabla kafir". Asas Bhinneka Tunggal Ika udah mati.

Gue pikir kalo mau menasihati sesama saudara muslim, harusnya anjuran seperti itu dilakukan di komunitasnya, jangan di tempat publik di mana orang-orang umum berseliweran di situ. Tersinggung gak sih orang-orang non muslim yang ngeliat orang ngebentangin spanduk seperti itu sambil teriak-teriak kafir?

Bertabayyun, bukannya mereka suka make istilah itu? Kenapa sekarang jadi gampang banget diprovokasi. Katanya nuntut minta maaf, karena kalo gak minta maaf nanti doi harus diproses hukum. Lah ini orangnya udah minta maaf, tapi masih aje. Emangnya Nabi ngajarin untuk bales dendam? Nabi aja masih mau maafin orang kafir yang ngelemparin Beliau dengan kotoran.

Sebelon gue akhirin, jangan bilang kalo gue udah gak peka sama agama gue sendiri. Gue marah banget ketika ada pilem yang menghujat Islam, gue marah banget sama para karikatur Paris yang ngegambar dan ngelecehin Nabi Muhammad SAW. Gue berenti maen 9Gag karena dulu sempet rame ama postingan-postingan provokatif yang ngejatohin nama Islam saat jamannya terorisme Paris (dan gak menutup kejadian yang serupa di masa depan karena sistem filterisasi postingannya yang terlalu lemah, ya makanya gue gak maen lagi). Di IG gue banyak banget ngereport dan ngeblokir akun-akun yang ngelecehin Islam, begitu juga dengan Yutup saat ngeliat komen-komen kurang ajar yang ngatain Islam. Dan masih banyak lagi contoh lainnya dari perasaan gue yang marah ketika ada penistaan (yang bener-bener penistaan) agama Islam. Kadang suka terbesit dalam pikiran bahwa gue pengen nyantet orang-orang yang (emang bener-bener) ngehina Islam hehe.

Intinya gue masih memiliki sensitifitas terhadap agama, tapi bedanya masih berusaha mikir kritis dan menyeleksi hal-hal tersebut dalam penempatan posisi gue.

Jadi ya... gitu.

Monday, October 24, 2016

Tentang Etos Kerja

Ketika kita baru memasuki suatu perusahaan, pasti ada suatu beban yang kita pikul. Sebenernya mungkin bahasa tepatnya bukan beban kali ya, tapi tuntutan berupa kesadaran diri bahwa kita harus bisa merealisasikan segala omongan manis yang disuguhkan saat interview kerja yang membuat kita diterima di perusahaan tersebut. Dengan kata lain, kita harus bisa membuktikan janji saat interview dengan sebuah etos kerja yang baik.

Ya, layaknya iklan komersil yang ada di tipi-tipi, segala kata-kata yang 'menjual' diri kita kepada HRD memang harus dibuktikan. Kita adalah si produk yang memberikan janji manis kepada audien(s), yaitu perusahaan. Setelah mereka mau membeli produk kita atau dengan analogi aslinya memperkerjakan kita, kita harus bisa menjawab ekspektasi mereka yang ditumbuhkan oleh janji manis kita melalui kualitas kerja yang baik. Ini adalah tanggung jawab kita yang harus diemban dalam kesadaran diri sebagai karyawan.

Kesadaran itu ada pada diri gue saat pertama kali kerja sebagai Account Executive atau AE di sebuah marcomm agency. Gue begitu fokus untuk memberikan yang terbaik dari diri ini kepada perusahaan. Kalo perlu, gue akan double job di perusahaan tersebut, yaitu sebagai AE dan sebagai CEO. Tapi naas setelah gue menawarkan diri menjadi CEO ke bos gue, gue malah dilempar dari lantai 2.

Awal-awal masuk kerja, gue begitu rajin, sampe-sampe gue dateng 1 jam sebelum jam masuk kerja pada jam setengah 9 pagi. Dateng ke klien pun begitu, gue selalu sampe 1 jam lebih awal di tepat ketemuan. Bukannya sok jadi karyawan rajin, tapi saat itu gue serasa dihantui oleh tuntutan pribadi bahwa gue gak boleh terjun ke jurang kesalahan dan mempermalukan diri gue sendiri, karena gue benci kecemplung dalam sebuah masalah.

Untuk sebagian karyawan baru, ada masa-masa ketika deskripsi dan tanggung jawab pekerjaan yang dikasih perusahaan masih agak abstrak. Jadi setelah dijelasin di awal mengenai tugas dan tanggung jawab kita, kebanyakan perusahaan langsung ngelepas gitu aja pas proses kerja berlangsung. Maksudnya kebanyakan ketika kita baru direkrut, kita dituntut untuk 'membawa' diri kita sendiri alias mandiri dalam masuk ritme kerja tim yang udah ada. Dan di satu sisi, kita sebagai karyawan baru mengalami fase 'kebutaan informasi' alias gak tau apa-apa ketika masuk ke lingkungan baru.

Namun karena rasa segan diri yang udah terlalu tinggi, gue memutuskan agar gak tinggal diam di situasi seperti itu. Gue aktif nanya, minta kerjaan, dan bahkan inisiatif mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sebenernya gak disuruh. Selain ngejerjain pekerjaan AE, gue juga ngurus administrasi lah, bikin time schedule lah, nulis artikel website yang notabenenya udah setahun gak diupdate lah, aktualisasiin akun-akun medsos perusahaan lah, bikin creative brief lah, bikin video script lah, bikin konten tulisan buat klien lah, bikin konten company profile perusahaan internal & klien lah, bahkan gue juga ngedesain konten visual buat klien. Kadang gue juga sengaja 'jualan' perusaaan dengan ngontak beberapa kenalan untuk diajak kerja sama. Padahal fokus tanggung jawab kerja gue sebenernya bukan di marketing, melainkan di client services.

Untuk pekerjaan AE sendiri BAP dan client brief selalu gue buat rapi, detil, dan tepat waktu. Bahkan di dalam client brief, gue gak hanya menyantumkan galian informasi umum tentang klien kayak profil perusahaan, ragam produk, objectives, dll, tapi juga udah nyerempet ke ranah analisis strategi dan usulan ide yang semata-mata sengaja gue tambahin konten briefnya untuk memudahkan pekerjaan Strategic Planner. Kebetulan gue punya field of knowledge & experience di bidang itu untuk menopang kontribusi analisis dan ide stratetgi pemasaran jika melihat pada latar belakang pendidikan gue sebagai lulusan marcomm dan pengalaman kerja sebagai Stratplan. Alhamdulillah salah satu usulan gue diterima gak hanya oleh internal team, tapi juga klien, dan itu dijadikan strategi yang diimplementasikan secara berkelanjutan di program-program klien tersebut.

Kadang untuk beberapa kesempatan, si bos juga sempat memercayakan gue untuk nanganin beberapa pekerjaan Stratplan. Mungkin dari hal-hal tersebut,si bos ngeliat potensi yang lain dari diri gue, so, beberapa bulan kemudian, gue dipindah ke posisi Stratplan.

Jadi, baru masuk kerja, gue udah 'sengaja' menyibukan diri dengan megang 6 pekerjaan, yaitu AE, Marketing, Stratplan, Copywriter, Creative dan Digital Marketing Executive. Tentunya 5 pekerjaan terakhir gue lakukan atas dasar inisiatif sendiri aka gak ada yang nyuruh (btw beberapa bulan setelahnya, gue emang dipercaya nanganin proyek digital marketing klien, jadi gue gak hanya ngurus copywriting, creative, dan digital marketing internal doang, tapi juga si klien ini). Yah intinya gue udah berusaha ngasih sesuatu yang lebih deh ke perusahaan. Makanya gue rada 'kesentil' ketika ada anak baru yang keberatan megang 2 job sekaligus, yaitu client services dan marketing (padahal dua-duanya itu ya masih ranah AE juga). Like, seriously... lenje amat ente :)))

Gue bukan bermaksud jadi gila kerja sih. Jujur gue bukan tipe orang workaholic yang punya kecintaan sama yang namanya pekerjaan, karena itu gak sesuai dengan sifat alami gue hehe. Tapi ya namanya karayawan baru yang sekali lagi, rasa segannya terlalu tinggi, jadinya gue kayak gak bisa ngebiarin diri gue ngelalui waktu kosong semenit pun, bahkan ketika pekerjaan gue udah selesai. Jadi kalo kerjaan udah selese, ya gue nyari pekerjaan lain agar bisa selalu produktif. Bahkan ketika gue sakit pun, di rumah gue tetep kerja, karena ya itu, gue gak enak sama perusahaan.

Di kantor pun gue juga jadi terkesan kaku. Maksudnya kaku, gue jadi seolah membuat formal diri gue sendiri di lingkungan kantor yang dalam bayangan gue hanya ada 3 kata, yaitu kerja, kerja, dan kerja. Temen kantor ampe bilang, "Mas, kalo mau dengerin lagu make headset, dengerin aja..." Semenjak saat itulah gue jadi mengendur, karena ya, emang kerja model kayak begini berisiko menciptakan tingkat stres yang tinggi. Biar gak terlalu terkuras energinya secara signifikan, kita emang butuh selingan.

Ya, rasa segan yang terbangun sendiri di dalam diri emang udah membuat gue jadi kayak robot. Masuk sejam lebih awal, ishoma waktu  dzuhur gue isi dengan solat dan makan, abis itu balik lagi ke kantor buat lanjutin kerja. Pas ashar, gue cuman keluar ruangan buat solat, abis itu kerja lagi. Tiap hari kayak gitu. Padahal sebenernya rekan kerja gue yang laen gak 'die hard' kayak begitu. Mereka nyantai aja dalam bekerja. Makanya setelah dikasih tau ama temen buat agak nyantai dikit dan ngeliat lingkungan kerja gue yang emang sebenernya nyantai juga, maka gue pun mencoba untuk mengendurkan diri, tanpa tentunya, melepaskan prinsip kerja yang gue miliki.

Dan emang, kerja berjam-jam seharian dengan posisi duduk terus di depan monitor berdampak gak baek bagi kesehatan tubuh, ntar tau-tau sakit panas aja. Coba aja duduk terus di depan monitor laptop pas kantor lagi kebakaran, pasti ntar sakit panas. Maka dari itulah tiap beberapa menit, gue bangkit dari tempat duduk buat stretching. Tangan gue gue regangin ke samping, kaki gue rentangin ke depan, leher gue puter ke belakang, gue koma 3 hari.

Pas jam istirahat pun gue sengaja jalan kaki buat nyari makan. Pokoknya gue usahain agar ni badan semua bisa gerak di sela-sela waktu yang ada. Makanya kadang gue sengaja nyari makan sambil koprol. Yap itu semua gue lakuin untuk meluweskan diri.

Beberapa bulan selanjutnya ketika gue udah megang jabatan baru sebagai Strategic Planner, perusahaan ngerekrut orang baru untuk menempatai posisi Account Executive, dan itu membuat gue sedikit kaget... karena ada petasan nyempil di sempak gue.

Enggak.

Gue sedikit kaget karena ni orang bener-bener kebalikannya dari gue. Gak, maksudnya kebalikannya dari gue bukan berarti dia make sempak di pala dan bh di selangkangan. Tunggu, gue gak pernah make bh di pala. Ah udahlah...

Maksudnya adalah ketika dulu saat masih berstatus karyawan baru gue begitu segan hingga terlalu fokus kerja, orang baru ini justru sebaliknya. Gue begitu kaget ketika pas awal-awal kerja dia dengan antengnya seolah gak berdosa dateng kantor jam setengah 10. Besokannya juga gitu, besokannya juga gitu. Bahkan pernah dia dateng ke kantor bada dzhur dengan pembawaan yang polos kayak gak ada apa-apa. Padahal jarak dari tempat tinggal dia ke kantor itu cuman 15 menit waktu perjalanan. Bandingin dengan gue yang rumahnya di Bekasi, tapi masih sempetin buat dateng sejam lebih awal. Yah, gue sebagai senior langsung berusaha negor tentang kedisiplinan dia yang gak ada tempatnya. Dia pun kena tegor juga oleh si bos.

Setelah itu pun sikap kerjanya bener-bener membuat gue terpaku takjub. Kebetulan saat itu emang ada paku tiga biji nancep di pala gue. Gue musti berenti salto di tempat matrial.

Gimana ya, gue takjub karena ni bocah dengan entengnya maen, buka yutup, dan ngerjain hal-hal di luar pekerjaan di jam kantor. Bahkan pas jam kantor doi anteng banget tidur siang dengan gelar kasur di ruangan kerja. Beberapa kali pun dia malah keluyuran gak jelas pas jam kerja.

Yang paling ngeselin adalah ketika lagi briefing dengan klien. Sebelon melanjut, gue kasih gambaran singkat tentang pekerjaan AE. Jadi secara garis besar itu AE berfungsi untuk menghubungkan klien dengan tim internal, termasuk itu menampung segala bentuk informasi yang disampaikan klien untuk kenudian dialirkan kembali ke tim. Makanya fungsi notulensi di sini menjadi penting bagi mereka, karena dari situ, mereka bisa buat BAP dan client brief.

Nah, lanjut dari situ, gue yang lagi nyatet poin-poin pada proses dikusi dengan klien tetiba mendapati satu buah kalimat sederhana tapi ngena. Jadi, di tengah proses nyatet, dia bilang ke gue sambil nunjuk make telunjuk,

"Tuh, tuh, catet."

Kesalahan dia ada 2:
1. Dia adalah AE, yang seharusnya menotulensi jalanannya proses briefing adalah dia, dan dia gak melakukan hal tersebut.
2. Dia dengan kurang ajar udah nyuruh seniornya untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh dia, padahal waktu itu gue juga lagi nyatet.

Strategic Planner atau Stratplan harus bersinergi dengan AE dalam urusan pekerjaan. Salah satu contoh ketika kita sedang meeting dengan klien, Stratplan musti nyatet poin-poin diskusi yang berkenaan dengan informasi yang dibutuhkan untuk perancangan strategi marcomm klien.

Kenapa musti Stratplan musti nyatet? Karena proses nyatet membantunya dalam menstimulus otak agar lebih mudah dalam menangkap, menyimpan, dan memahami insight klien. Gampangnya efektivitas proses belajar akan lebih tinggi jika dilakukan tidak hanya dengan mendengar atau membaca aja, tapi juga mencatat. Jaman kuliah dulu,selain 3 hal tersebut, gue juga lakukan simulasi presentasi biar materi bisa lebih nempel di otak. Jadi gue belajar gak cuman membaca, mendengar, atau menghapal doang, tapi juga mencatat, mengucapkan, dan mengartikulasikan materi dalam bentuk bahasa nonverbal. Ya intinya, semakin kita perluas indera yang dimanfaatkan untuk kegiatan belajar, semakin nempel pula tu materi yang kita pelajari. Ibarat benda, cara-cara belajar tersebut udah kayak tali yang menambah ikatan terhadap ilmu agar tidak mudah lepas dari otak. Makanya gue nyatet, biar catatan tersebut bisa jadi referensi dalam bekerja.

Idealnya, proses briefing dilalui tidak hanya dengan mendengar, berbicara (aktif nanya/merespon klien), atau mencatat dalam bentuk tulisan doang, tapi juga merekam jalannya proses diskusi agar dapat menjadi bukti otentik suatu pertemuan. Jadi tu rekaman audio yang nantinya diterjemahkan ke dalam bentuk transkrip bisa menjadi referensi objektif dari suatu pertemuan rapat. Jaman gue jadi AE, gue malah ampe ngerekam video. Jadi dari acara briefing, gue punya 3 bukti rapat, yaitu draft catatan, foto, dan video.

Pertanyaannya emangnya gak cukup dengan BAP? BAP itu adalah tahap selanjutnya setelah proses pencatatan kasar. Dengan kata lain BAP dibuat dari proses ricek, pengolahan, dan seleksi informasi dari referensi-referensi tersebut. Dari BAP, AE bisa bikin client brief, dan BAP-nya sendiri pun bisa disampaikan langsung ke internal sebagai sumber informasi meeting bagi tim.

Ya pasti beda lah antara BAP yang dibuat spontan dengan BAP yang dibuat berdasarkan sumber-sumber otentik itu. Apalagi interpretasi kita dalam menerjemahkan proses diskusi ke bentuk BAP sangat berpotensi menciptakan informasi yang subjektif, karena kita nulis dengan pemahaman kita sendiri. Maka dari itu back up data berupa catatan kasar dan transkrip audio menjadi sangat penting dalam mendukung validitas informasi yang kita tulis. Kan data-data tersebut bisa dijadikan pegangan juga untuk proses konfirmasi informasi dengan klien.

Waktu gue jadi AE, Stratplan gue juga ikutan nyatet poin-poin rapat berdasarkan pemahaman dia. Setelah proses rapat dilakukan, barulah kita berdua mencocokan poin-poin diskusi agar ada sinkronisasi data. Dan sebagai tambahan, idealnya informasi yang dicatat oleh si AE ini harus lebih lengkap dari sekedar catatan kasar si Stratplan, karena bisa dibilang dia ini sumber informasi kedua setelah klien, jadi tim internal sangat bergantung ama doi.

Nah disitulah poinnya dari kegiatan mencatat. Jangan ketika gue sebagai Stratplan lagi nyatet informasi dari proses diskusi, si AE malah leha-leha ngegabut aja. Dan kurang ajarnya, dia malah nyuruh gue untuk ngerjain pekerjaan yang seharusnya dia lakukan dari tadi. Etika dia di mana? Ya setelah itu langsung gue tegor aja.

Gue bukan orang yang menganut paham senioritas. In fact, gue gak suka banget sama hal tersebut. Tapi kita sebagai junior juga jangan mengenyampingkan yang namanya etika. Masih jadi karyawan baru aja udah sok bossy, padahal kerjaan yang dia suruh adalah tanggung jawab dia.

Tapi yaudahlah, setelah itu gue masih berusaha sabar dan menyesuaikan diri dalam menuntun dia. Gue negor dia dalam konteks profesionalitas kerja, bukan personal, yah walaupun kadang sikapnya suka bikin gregetan sih hehe.

Yah intinya, etos kerja yang baik itu perlu dipelihara. Gue melihara etos kerja gue bukan untuk pencitraan, karena bahkan dari jaman sekolah dan kuliah pun gue paling males caper-caperan dengan guru atau dosen. Orang-orang mungkin bisa bilang kalo gue cuman berusaha mengalir berjalan di trek yang seharusnya gue jalanin. Dengan kata lain ya emang esensi dari seorang pekerja ya kayak gitu, yaitu bekerja dengan baik.

Sekali lagi, gue bukannya kayak yang sok pengen jadi karyawan teladan, karena persetan lah dengan itu, gue juga bisa bete kalo dikasih pekerjaan yang gak manusiawi, contohnya kayak netein bayi gorila. Maksud gue di atas saat ngegambarin budaya kerja gue tuh bukan kayak yang terkesan sok pamer, tapi lebih pengen memperlihatkan kontradiksi dengan subjek yang gue bahas di sini.

Yang gue lakukan itu sama sekali gak istimewa, karena pastinya kalian akan ngelakukan hal yang sama di perusahaannya masing-masing. Gue yakin saat kalian berposisi sebagai karyawan baru, kalian pasti juga punya rasa segan yang menuntut diri masing-masing untuk kerja serius. Maksudnya kan gak enak juga kalo kita baru masuk tau-tau udah udah bikin kesalahan, udah kena tegor, udah kena peringatan. Ya kita sebagai orang baru yang masih fresh harusnya bisa lebih semangat dong dalam bekerja.

Inti curhatan di tulisan ini adalah gue gondok aja ngeliat orang baru yang bukannya antusias dalam ngebuktiin alesan kenapa dia pantes diterima di perusahaan ini, tapi malah memperlihatkan attitude dan work ethic yang di bawah standar. Sekarang gini, misal pas jaman kuliah/sekolah dalam suatu perihal tugas kelompok, ada salah satu anggota yang songong dan nyantai maksimal, kita sebagai rekan kesel gak? Ya apalagi dalam dunia profesional kan? Kebayang kalo misalnya sikap gue sebagai karyawan baru kayak gitu, masuk ke perusahaan baru, belon ada sebulan, terus di kantor gue udah semena-mena. Bayangin kalo gue baru-baru udah ngomong kalimat "Heh, tuh, tuh, kerjain" ke senior. Mending kalo gue cuman ditegor, mungkin gue bakalan didamprat atau diteken abis-abisan kali.

Ya jadi gitu ajalah curhatan kali ini. Sebenernya yang namanya unek-unek itu banyak baaangeet, cuman ya... untuk kali ini, cukup sampai di sini hehe.

Eh, btw mampir doong ke blog gue yang baru, yaitu "Dear Diare". Ni blog isinya komedi satir bergaya personal literature. Ni linknya di mari. Yang punya blog, boleh loh difollow hehe, tar gue follow balik deeh haha.

Monday, August 22, 2016

Blog Baru (Lagi)

Aloooo...

Kemaren kan ceritanya gue bikin blog baru gitu ya...

Nah, sekarang gue bikin blog baru lagi nih...

Gue bukan lagi keracunan nikotin blog. Jadi, gini, untuk blog yang kemaren dishare itu (My Insight) isinya tentang kesoktauan gue mengenai dunia (yaelah). Tulisannya baru 1 sih, tapi gue nantinya akan mengisi blog tersebut dengan pembahasan yang lebih serius, mau itu tentang profesi, pengetahuan umum, filosofi hidup, atau mungkin konspirasi! yah pokoknya semua itu dibikin berdasarkan insight gue aja... kan sesuai dengan nama blognya yak... ngeheh... dan pastinya sih tata bahasanya juga lebih baku, kan disesuaikan dengan tema pembahasannya dong... hueheh...

Naaaaah.... setelah blog serius yang kemaren gue buat itu, gue bikin blog baru lagi nih ceritanyaa... Isinya pure komedi... Sebenernya SNSD itu juga pada dasarnya blog komedi sih, cuman isinya kan lebih random ya... Ada komedi lah, ada musik lah, ada bola lah, ada curcolan gue lah, beneran gak beraturan deh!

Berkenaan dengan itu, gue pengin bikin satu wadah yang kontennya pure komedi, jadi isinya lebih konsisten.

Blog ini namanya "Dear, Diare". Sebenernya dari kemaren gue udah beberapa kali ngeshare tulisan-tulisan gue di facebook dan twitter sih, jadi mungkin beberapa dari kalian udah tau kali yak.

Blog ini gayanya tetep santai dengan rangka personal literature. Jadi gue akan sharing pengalaman pribadi yang dikemas dengan gaya komedi. Beberapa ide cerita ada yang gue ambil dari blog SNSD, dan beberapanya lagi pure orisinil. Tapi walaupun tema ceritanya gue ambil dari SNSD, tulisannya tetep akan gue rombak menjadi tulisan yang bener-bener baru. Labelnya (segmen tulisan) secara garis besar ada "school story", "college story", ada "after college story", dan ada "random things". Ohiya gue juga akan membawa kembali "om kempot" dari blog SNSD ke blog yang baru ini. Walaupun masih rencana, tapi intinya segmen-segmen tulisan tersebut akan muncul di blog ini

Jadi temen-temen, boleh banget loh buat mampir ke blog baru ini. Kalo ada yang punya blog, monggo banget difollow blog-blog gue ini (terutama yang "Dear, Diare", karena gue akan lebih aktif nulis di sana daripada di "My Insight"), nanti biar gue follback blog kalian. Jadi yahhh.... begichu.

Mari jadi sahabat blogger...ciailah...


Monday, August 15, 2016

Blog Baru

Kemaren gue baru bikin blog baru gitu yang isinya lebih serius dari blog kampung ini.  Yang lagi ada waktu, monggo mampir di mari.